Selasa, 21 Februari 2017

Arti Panggilan Bin dan Binti Menurut Pak Mursyidin

Kata "bin" dan "binti" seringkali akrab di telinga kita di momen tertentu. Misalnya ijab kabul pernikahan dan pengumuman berita duka di masjid atau penyebutan kurban saat idul adha. Beda halnya dengan di negri arab sana yang umum menggunakan kata "bin" dan "binti" pada akhir namanya.

 
Muhammadar Rasulullah
Kaligrafi Muhammadar Rasulullah

"Bin" dan "binti" bisa diartikan dalam bahasa Indonesia adalah anak. "Bin" digunakan untuk anak laki-laki, sedangkan "binti" digunakan untuk anak perempuan. Misalnya disebutkan fulan bin supri atau fulana binti supri. Berarti fulan merupakan anak laki-laki dari pak supri, sedangkan fulana merupakan anak perempuan pak supri.

 

Bagaimana penggunaan "bin" dan "binti" sebenarnya?

 

"Bin" dan "binti" ini diikuti oleh nama bapak. Kalo ada yang bilang cowo itu "bin"-nya diikuti nama ibu dan cewe "binti"-nya diikuti nama bapak, itu salah kaprah. Mau laki-laki atau perempuan, keduanya diikuti nama bapak. Makanya garis keturunan yang sering disebut itu dari bapak. Bukan berarti ibu ga dianggap ya, ini dikarenakan bapak itu kan kepala rumah tangga, penanggung jawab atas keluarganya. Kalo di arab sana itu misalnya ada anak yang melakukan tindakan kriminal, yang tercoreng itu nama bapaknya. Bagaimanapun juga, bapak selain pemberi nafkah, juga punya peran penting dalam mendidik anak, ga cuma ibunya.

 

Ada kasus lain yang menggunakan nama ibu. Ini dikarenakan anak dan ibunya satu keyakinan (agama) sedangkan si bapak berbeda. Zaman nabi Muhammad ada yang seperti itu *saya lupa orangnya* :D. Saat itu si bapak ga mau memeluk islam. Ketika istri dan anaknya hijrah ke Madinah, si bapak tetap di Makkah. Sejak hijrah itulah si anak pake nama ibunya di akhir namanya.

Nah, kalo kedua orang tuanya beda keyakinan dengan si anak, anak tetap memakai nama bapaknya. Contohnya Muhammad bin Abdullah dan Ummar bin Khattab. In case, sewaktu orang tuanya masih hidup, islam belum ada saat itu. Untuk penamaan Ali bin Abi Thalib, islam sudah masuk tapi Abi Thalib ga mau masuk islam, sedangkan ibunya Ali sudah wafat sebelum islam masuk. Jadilah Ali memakai nama bapaknya.

 

Kasus lain, bapak yang meninggal lebih dulu dari ibu, asal masih seiman penggunaan nama "bin" dan "binti" tetap mengikuti nama bapak. Begitu halnya dengan orang tua yang bercerai, tetap menggunakan nama bapak kandung, bukan bapak tiri. Untuk anak angkat dan adopsi juga menggunakan nama bapak kandung.Untuk itu, bagaimanapun bentuk bapak yang belum pernah dilihat sang anak, dan sebenci apapun si ibu terhadap si bapak *sinetron :p*, sebaiknya tetap diberitahu.

3 komentar:

  1. Kalau tidak tahu ayah kandung gimana menurut hukum islam

    BalasHapus
  2. Bin tetap bukan bpak angkat, jdi kan saja bin abdul rohman,abdul aziz dan lainlnya yg arti nya hamba allah,pengetahuan ini aku pernah denger ceramah ustad.

    BalasHapus
  3. Untuk penggunaan kata binti misal mencari silsilah keturunan dari ibu bolehkah mengunakan ,contoh fulan binti fulan???

    BalasHapus